Depkominfo Siapkan Permen Konten Multimedia

Jakarta – Demi mengatur peredaran konten dan informasi yang bisa diakses pengguna internet Indonesia, pemerintah tengah menggodok peraturan menteri soal konten multimedia.

Demikian disampaikan Menkominfo Tifatul Sembiring usai acara penandatanganan kerja sama penyediaan Mirror DNS Nawala di Gedung STO Gambir, Jakarta, Selasa (17/11/2009).

Dijelaskannya, Permen Konten Multimedia ini telah digodok oleh Depkominfo sejak 2006 lalu atau ketika Menkominfo masih dijabat Mohammad Nuh. Hanya saja, kelahiran aturan tersebut baru dipertimbangkan dalam beberapa bulan ke depan.

“Kira-kira dalam 6 bulan ke depan kita keluarkan,” tukasnya kepada sejumlah wartawan.

Aturan ini sendiri, lanjut Tifatul, merupakan alat untuk mengatur segala macam konten negatif yang timbul di dunia maya. Alhasil, internet dapat lebih sehat dan aman bagi anak-anak.

“Selain itu juga nantinya para orang tua dapat lebih tenang melepas anak-anaknya mengakses internet,”.

Instant Messaging, Sarana Selingkuh Potensial

Jakarta – Sebagian besar pengguna internet di Asia Tenggara rupanya mewarnai kehidupan asmara mereka lewat layanan Instant Messaging (IM). Mulai dari mengajak kencan, putus dari pacar, hingga aktivitas perselingkuhan dilancarkan dari pesan instant ini.

Dalam sebuah survei yang digelar Microsoft Windows Live kepada 1.400 responden di Asia Tenggara terungkap bahwa 86,5% dari responden mengaku memanfaatkan IM untuk mengajak seseorang berkencan, bahkan 6,8% di antaranya ingin melamar seseorang secara online.

Menariknya, sementara orang-orang berpikir bahwa mengajak seseorang berkencan melalui layanan online itu dapat diterima, hanya sepertiga responden (33,3%) mengaku akan menyatakan putus melalui IM.

“Saya adalah orang yang romantis, tetapi saya tidak berpikir bahwa meminta seseorang untuk berkencan dengan cara online adalah sesuatu yang salah,” ujar Ade Mailangkay, seorang banker. “Kita berada di era digital. Saya mengenal banyak orang yang lebih memilih untuk mengambil langkah pertama yaitu melalui Instant Messenger. Namun berbeda pada saat ia melamar seseorang,” tambahnya.

Pun demikian, selain mengundang asmara, IM juga punya andil untuk memancing prahara. Sebab, tak sedikit penggunanya yang memanfaatkan IM untuk selingkuh alias flirting ke orang lain yang bukan pasangannya.

Dari survei ini saja misalnya, ada 60,9 persen atau lebih dari setengah responden yang mengaku sering menggoda orang lain di luar pasangan mereka dengan cara online.

“Melalui Instant Messenger atau bahkan SMS, Anda  memiliki kesempatan untuk mengungkapkan hal-hal yang segan untuk diucapkan ketika berhadapan langsung. Kan lebih mudah untuk menggoda atau mengajak seseorang kencan, karena mereka tidak dapat melihat betapa gugupnya kita.

Praktisi Open Source Dunia Berkumpul di Jakarta

Jakarta – Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah ajang Global Conference on Open Source (GCOS). Diprediksi, ada sekitar 500 peserta, termasuk di antaranya puluhan praktisi Open Source dunia, untuk sharing ilmu.

Dalam sambutannya, Ketua Asosiasi Open Source Indonesia Betty Alisjahbana berharap acara ini dapat mempererat hubungan serta memajukan negara-negara pengguna Open Source.

“Tak hanya untuk kalangan pemerintah, tapi juga akademisi, komunitas dan pengguna Open Source,” tukasnya dalam acara yang digelar di Hotel Shangrila Jakarta, Senin (26/10/2009).

Selain itu, GCOS juga menanggung beban untuk mencari cara bagaimana membuat Open Source semakin menarik dan bermanfaat sehingga kian dilirik pengguna komputer.

Menkominfo Tifatul Sembiring didapuk untuk membuka acara yang digelar selama dua hari dalam bentuk konferensi, pameran serta worskshop seputar aplikasi bersistem terbuka itu.

“Open Source telah semakin berkembang di dunia, dan keberadannya mampu melawan tingkat pembajakan software,” tukasnya.

Selain itu, menurut mantan Presiden PKS ini, Open Source juga mampu berperan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara berkembang. Hal itu dapat dilihat dari bermunculannya pengembang software lokal (ISV) yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

Hanya saja, untuk acara berlevel ‘dunia’ acara ini bisa dibilang kurang banyak menghadirkan peserta dari luar. Sebab, menurut panitia hanya ada sekitar 10-15 negara asing yang ikut serta.

“Seperti Brasil, Malaysia, Filipina, India, Jerman, Austria, serta Singapura,” tukas Kemal Prihatman, Assistant Deputy IT Development Kementerian Negara Ristek.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.